Hai, nama ku Vinni.
Kali ini aku ingin bercerita tentang kehidupan temanku, Ani, dari kecil sampai
sekarang. Ani merasa memiliki sifat khusus yang ia sadari baru-baru ini, tetapi
sudah lama tertanam dalam kepribadiannya. Sifat ini yang ingin selalu Ani
tularkan pada orang lain. Jiwa kompetisi…
Hari itu, sekitar 8-14
tahun yang lalu. Ya, saat itu Ani masih duduk di bangku sekolah dasar.
Perjalanan Ani ketika SD sangatlah menyenangkan. Jelaslah, ketika yang kita
pikirkan hanya belajar dan bermain semua akan terasa menyenangkan. Saat itu,
orang tua Ani mendidik Ani dengan disiplin. Setiap malam, ayah Ani selalu
mendampingi Ani untuk belajar, ya persis setiap malam. Ani banyak belajar tentang
matematika. Ayah Ani mengajari berhitung, berpikir logis, menyelesaikan soal
dengan cepat dan tepat, hingga akhirnya Ani sangat suka matematika. Di samping
itu, fyi Ani juga punya waktu bermain
bersama teman-temannya pada sore hari. Jadwal kegiatan yang teratur ini membuat
Ani merasa seimbang menjalankannya.
Tanpa Ani sadari, orang
tua Ani sangat peduli dengan ranking Ani ketika di kelas. Pada awal kelas satu,
Ani mendapatkan peringkat 8. Saat itu Ani sangat sangat tidak mengerti apa itu
ranking yang didapatkannya. Ayah Ani
menjelaskan dengan perlahan-lahan. Pada kelas satu semester dua, Ani
mendapatkan peringkat 5. Saat itu, ayah Ani senang sekali mendengarnya. Ani pun
masih bingung mengapa ayahnya senang, padahal jelas bahwa delapan ke lima itu
terjadi penurunan hahaha. Lalu, pada kelas dua, pada kedua semester Ani
mendapatkan peringkat 3. Saat itu, ayah dan ibunya sangat senang. Akhirnya Ani
paham bahwa semakin kecil nilai peringkat seseorang, maka semakin menunjukkan
bahwa orang tersebut lebih pandai dari yang lain. Akhirnya, karena award yang diiming-imingi orang tuanya,
seperti uang jajan tambahan, jalan-jalan, dsb, Ani pun terpacu untuk menjadi peringkat
satu. Cerita pun berlanjut…
Pada kelas tiga, Ani
benar-benar bekerja keras untuk itu. Ani banyak belajar. Ani banyak bertanya
pada gurunya, juga banyak berdebat dengan gurunya jika Ani tidak sepakat pada
suatu hal. Alhamdulillah Ani mendapatkan peringkat satu yeeeyyy. Ani tidak menyangka,
ternyata semangat itu membawanya untuk terus mendapatkannya (ranking satu itu) hingga
kelas empat, lima, dan enam. Ani mulai mengerti arti sebuah perjuangan.
Tiba saatnya ketika Ani
SMP. Ani tetap memiliki semangat untuk menjadi yang terbaik di kelas. Kali ini,
Ani tidak hanya belajar akademik, tetapi belajar memahami kehidupan juga. Ani pun
banyak bergaul dengan beragam teman-temannya. Ani berteman dengan orang-orang
yang pintar, orang-orang yang alim (Ani ikut rohis juga), orang-orang yang
hedon, bahkan oran-orang yang bok*ep pun Ani ajak berteman wkwkwk. Semua itu Ani
lakukan karena Ani khawatir jika nantinya Ani hanya punya teman yang pintar,
yang mungkin tidak membuat pola pikirnya berkembang. Tak lupa, Ani juga bekerja
keras untuk mendapatkan prestasi akademik.
Pada akhir masa-masa di
SMP, satu hal paling mengganjal saat itu, adalah ketika Ani sadar bahwa Ani tak
sedikitpun pernah mencicipi peringkat satu. Ani ingat, Ani memiliki teman
laki-laki yang sangat pintar, sebut saja namanya Dadan. Dadan adalah teman Ani
yang sangat ambisius terhadap prestasi akademik dan membuat Ani sangat ingin
bersaing dengannya. Perasaan itu pun muncul saat nama Dadan disebut sebagai
peringkat pertama. Semangat Ani terbakar. Rasanya ingin Ani habiskan saja semua
waktunya untuk belajar. Tapi apalah daya bahwa pencapaian tertingginya hanya
peringkat dua. Kemudian Ani ceritakan semuanya pada ayahnya dan beliau
mengeluarkan petuahnya, “Kalau kamu bersaing dengan laki-laki, itu akan sangat
sulit daripada kamu bersaing dengan perempuan, bahkan tidak mungkin kamu bisa
unggul dari laki-laki.” Alhasil, masa SMP Ani berakhir seperti itu..
Pada saat SMA, hidup
Ani di awali dengan masa-masa adaptasi yang berat. Pasalnya, rumah Ani di
Jakarta sedangkan Ani bersekolah di salah satu sekolah analis kimia di Bogor.
Ya, Ani sewa kost di dekat sekolah. Tahun pertama, Ani fokus untuk beradaptasi.
Hingga tibalah saat Ani kelas 2 SMA. Ani banyak bertemu dengan teman-teman
baru, tetapi ada satu orang laki-laki yang Ani soroti, sebut saja Frido. Semua
teman-teman Ani tahu bahwa Frido adalah siswa yang sangat pintar. Dia sering
ikut olimpiade kimia dan prestasinya selalu membanggakan. Saat itu, Ani takut.
Ani takut tidak bisa meraih prestasi akademik lagi. Terlebih, petuah ayah Ani
selalu membayanginya.
Dengan segala sisa
semangat yang ada, Ani pun memilih melawan. Sekolah Ani merupakan sekolah
kimia, tetapi Ani lebih menyukai pelajaran matematika. Frido, anak pintar ini
sangat jago kimia. Mulai dari kimia organik, kimia anorganik, kimia fisika,
hingga kimia analisis dia sangat ahli. Semua pelajaran kimia, Ani banyak
belajar dari Frido. Tak heran, nilai kimia Frido lebih bagus dari Ani. Ani
sadar, nilai kimianya tidak akan lebih bagus dari Frido. Ani memutar otak
memikirkan strategi untuk tetap bisa berprestasi (wahhh sampe segitunya ya
wkwk). Akhirnya, Ani fokus untuk
mengembangkan matematikanya. Ketika ujian kimia, Ani sampai tidur jam 4 pagi
karena banyak materi yang belum Ani pahami. Segitu saja, nilai Frido telak 100,
sedangkan nilai Ani tidak seperti itu. Padahal Ani sudah matimatian belajar
kimia ckckc. Tetapi ketika matematika, mungkin tidak butuh effort yang terlalu banyak, sempurna. Ketika matematika, Ani sangat
bersemangat. Ani banyak bekerja keras
untuk itu. Dengan hanya mengandalkan satu pelajaran, akhirnya Ani peringkat
pertama untuk kedua semester. Rasanya itu, mematahkan petuah itu, petuah dari
ayahnya, luar biasa. Ani senang. Ani berhasil dengan semangat dan perencanaan
yang kuat.
Itulah Ani, selalu
terbakar untuk menjadi yang lebih baik. Saat ini, Ani adalah mahasiswa tingkat
dua di salah satu perguruan tinggi negeri. Ani saat ini menjadi panitia ospek
di kampusnya. Kebetulan, sistem kepanitiaan ini menerapkan sistem best staff dan best division setiap bulannya. Dari divisi Ani, nama temannya
dipanggil sebagai best staff on May,
ya sebut saja Aldi namanya. Perasaaan
itu selalu muncul, jantung berdebar, semangat yang terbakar, dan tekad yang
tajam ingin memastikan namanya ada di bulan berikutnya.
Pada bulan Juni,
kepanitiaan vacuum sesaat. Ani yang
lahir di Jakarta pada 22 Juli 1997 ini, melakukan kerja maksimal setelahnya.
Ani lebih banyak akrab dengan teman satu divisinya, Ani menulis tugas dan
menjalankannya dengan rapi, hingga bekerja dengan baik. Ani teringat, alangkah
bahagianya mendapat kado teristimewa saat Ani berulang tahun nanti. Lalu, Ani
bersungguh-sungguh. Ani melihat, Ani masih banyak kekurangan. Terlebih, Aldi
sangat hebat. Dia tenang, pandai berempati, berpikir rasional. Tetapi, kerja
keras Ani dan jiwa kompetisi Ani, memberikan itu semua.
Hingga akhirnya, hari ini Ani menyadari bahwa jiwa
kompetisi telah membuatnya melampaui segala keterbatasan. Ani tahu, Ani bukan
orang yang berbakat menjadi pintar, orang tua Ani hanya lulusan SLTA. Ani juga
bukan orang yang alamiah untuk bersosialisasi dengan orang lain. Ani bahkan
bukan orang yang rajin mencatat tugas-tugasnya saat kepanitiaan itu, Ani lebih
suka mendengarkan daripada menulis. Tetapi, jiwa kompetisi inilah yang membawanya
hingga sejauh ini. Mendobrak comfort zone
dalam hidupnya dan siap menjadi jauh lebih baik.
----

Tidak ada komentar:
Posting Komentar