Sabtu, 27 Januari 2018

Jiwa Kompetisi

Hai, nama ku Vinni. Kali ini aku ingin bercerita tentang kehidupan temanku, Ani, dari kecil sampai sekarang. Ani merasa memiliki sifat khusus yang ia sadari baru-baru ini, tetapi sudah lama tertanam dalam kepribadiannya. Sifat ini yang ingin selalu Ani tularkan pada orang lain. Jiwa kompetisi…
Hari itu, sekitar 8-14 tahun yang lalu. Ya, saat itu Ani masih duduk di bangku sekolah dasar. Perjalanan Ani ketika SD sangatlah menyenangkan. Jelaslah, ketika yang kita pikirkan hanya belajar dan bermain semua akan terasa menyenangkan. Saat itu, orang tua Ani mendidik Ani dengan disiplin. Setiap malam, ayah Ani selalu mendampingi Ani untuk belajar, ya persis setiap malam. Ani banyak belajar tentang matematika. Ayah Ani mengajari berhitung, berpikir logis, menyelesaikan soal dengan cepat dan tepat, hingga akhirnya Ani sangat suka matematika. Di samping itu, fyi Ani juga punya waktu bermain bersama teman-temannya pada sore hari. Jadwal kegiatan yang teratur ini membuat Ani merasa seimbang menjalankannya.
Tanpa Ani sadari, orang tua Ani sangat peduli dengan ranking Ani ketika di kelas. Pada awal kelas satu, Ani mendapatkan peringkat 8. Saat itu Ani sangat sangat tidak mengerti apa itu ranking yang  didapatkannya. Ayah Ani menjelaskan dengan perlahan-lahan. Pada kelas satu semester dua, Ani mendapatkan peringkat 5. Saat itu, ayah Ani senang sekali mendengarnya. Ani pun masih bingung mengapa ayahnya senang, padahal jelas bahwa delapan ke lima itu terjadi penurunan hahaha. Lalu, pada kelas dua, pada kedua semester Ani mendapatkan peringkat 3. Saat itu, ayah dan ibunya sangat senang. Akhirnya Ani paham bahwa semakin kecil nilai peringkat seseorang, maka semakin menunjukkan bahwa orang tersebut lebih pandai dari yang lain. Akhirnya, karena award yang diiming-imingi orang tuanya, seperti uang jajan tambahan, jalan-jalan, dsb, Ani pun terpacu untuk menjadi peringkat satu. Cerita pun berlanjut…
Pada kelas tiga, Ani benar-benar bekerja keras untuk itu. Ani banyak belajar. Ani banyak bertanya pada gurunya, juga banyak berdebat dengan gurunya jika Ani tidak sepakat pada suatu hal. Alhamdulillah Ani mendapatkan peringkat satu yeeeyyy. Ani tidak menyangka, ternyata semangat itu membawanya untuk terus mendapatkannya (ranking satu itu) hingga kelas empat, lima, dan enam. Ani mulai mengerti arti sebuah perjuangan.
Tiba saatnya ketika Ani SMP. Ani tetap memiliki semangat untuk menjadi yang terbaik di kelas. Kali ini, Ani tidak hanya belajar akademik, tetapi belajar memahami kehidupan juga. Ani pun banyak bergaul dengan beragam teman-temannya. Ani berteman dengan orang-orang yang pintar, orang-orang yang alim (Ani ikut rohis juga), orang-orang yang hedon, bahkan oran-orang yang bok*ep pun Ani ajak berteman wkwkwk. Semua itu Ani lakukan karena Ani khawatir jika nantinya Ani hanya punya teman yang pintar, yang mungkin tidak membuat pola pikirnya berkembang. Tak lupa, Ani juga bekerja keras untuk mendapatkan prestasi akademik.
Pada akhir masa-masa di SMP, satu hal paling mengganjal saat itu, adalah ketika Ani sadar bahwa Ani tak sedikitpun pernah mencicipi peringkat satu. Ani ingat, Ani memiliki teman laki-laki yang sangat pintar, sebut saja namanya Dadan. Dadan adalah teman Ani yang sangat ambisius terhadap prestasi akademik dan membuat Ani sangat ingin bersaing dengannya. Perasaan itu pun muncul saat nama Dadan disebut sebagai peringkat pertama. Semangat Ani terbakar. Rasanya ingin Ani habiskan saja semua waktunya untuk belajar. Tapi apalah daya bahwa pencapaian tertingginya hanya peringkat dua. Kemudian Ani ceritakan semuanya pada ayahnya dan beliau mengeluarkan petuahnya, “Kalau kamu bersaing dengan laki-laki, itu akan sangat sulit daripada kamu bersaing dengan perempuan, bahkan tidak mungkin kamu bisa unggul dari laki-laki.” Alhasil, masa SMP Ani berakhir seperti itu..
Pada saat SMA, hidup Ani di awali dengan masa-masa adaptasi yang berat. Pasalnya, rumah Ani di Jakarta sedangkan Ani bersekolah di salah satu sekolah analis kimia di Bogor. Ya, Ani sewa kost di dekat sekolah. Tahun pertama, Ani fokus untuk beradaptasi. Hingga tibalah saat Ani kelas 2 SMA. Ani banyak bertemu dengan teman-teman baru, tetapi ada satu orang laki-laki yang Ani soroti, sebut saja Frido. Semua teman-teman Ani tahu bahwa Frido adalah siswa yang sangat pintar. Dia sering ikut olimpiade kimia dan prestasinya selalu membanggakan. Saat itu, Ani takut. Ani takut tidak bisa meraih prestasi akademik lagi. Terlebih, petuah ayah Ani selalu membayanginya.
Dengan segala sisa semangat yang ada, Ani pun memilih melawan. Sekolah Ani merupakan sekolah kimia, tetapi Ani lebih menyukai pelajaran matematika. Frido, anak pintar ini sangat jago kimia. Mulai dari kimia organik, kimia anorganik, kimia fisika, hingga kimia analisis dia sangat ahli. Semua pelajaran kimia, Ani banyak belajar dari Frido. Tak heran, nilai kimia Frido lebih bagus dari Ani. Ani sadar, nilai kimianya tidak akan lebih bagus dari Frido. Ani memutar otak memikirkan strategi untuk tetap bisa berprestasi (wahhh sampe segitunya ya wkwk). Akhirnya,  Ani fokus untuk mengembangkan matematikanya. Ketika ujian kimia, Ani sampai tidur jam 4 pagi karena banyak materi yang belum Ani pahami. Segitu saja, nilai Frido telak 100, sedangkan nilai Ani tidak seperti itu. Padahal Ani sudah matimatian belajar kimia ckckc. Tetapi ketika matematika, mungkin tidak butuh effort yang terlalu banyak, sempurna. Ketika matematika, Ani sangat bersemangat.  Ani banyak bekerja keras untuk itu. Dengan hanya mengandalkan satu pelajaran, akhirnya Ani peringkat pertama untuk kedua semester. Rasanya itu, mematahkan petuah itu, petuah dari ayahnya, luar biasa. Ani senang. Ani berhasil dengan semangat dan perencanaan yang kuat.
Itulah Ani, selalu terbakar untuk menjadi yang lebih baik. Saat ini, Ani adalah mahasiswa tingkat dua di salah satu perguruan tinggi negeri. Ani saat ini menjadi panitia ospek di kampusnya. Kebetulan, sistem kepanitiaan ini menerapkan sistem best staff dan best division setiap bulannya. Dari divisi Ani, nama temannya dipanggil sebagai best staff on May, ya sebut saja Aldi namanya. Perasaaan itu selalu muncul, jantung berdebar, semangat yang terbakar, dan tekad yang tajam ingin memastikan namanya ada di bulan berikutnya.

Pada bulan Juni, kepanitiaan vacuum sesaat. Ani yang lahir di Jakarta pada 22 Juli 1997 ini, melakukan kerja maksimal setelahnya. Ani lebih banyak akrab dengan teman satu divisinya, Ani menulis tugas dan menjalankannya dengan rapi, hingga bekerja dengan baik. Ani teringat, alangkah bahagianya mendapat kado teristimewa saat Ani berulang tahun nanti. Lalu, Ani bersungguh-sungguh. Ani melihat, Ani masih banyak kekurangan. Terlebih, Aldi sangat hebat. Dia tenang, pandai berempati, berpikir rasional. Tetapi, kerja keras Ani dan jiwa kompetisi Ani, memberikan itu semua.


Hingga akhirnya, hari ini Ani menyadari bahwa jiwa kompetisi telah membuatnya melampaui segala keterbatasan. Ani tahu, Ani bukan orang yang berbakat menjadi pintar, orang tua Ani hanya lulusan SLTA. Ani juga bukan orang yang alamiah untuk bersosialisasi dengan orang lain. Ani bahkan bukan orang yang rajin mencatat tugas-tugasnya saat kepanitiaan itu, Ani lebih suka mendengarkan daripada menulis. Tetapi, jiwa kompetisi inilah yang membawanya hingga sejauh ini. Mendobrak comfort zone dalam hidupnya dan siap menjadi jauh lebih baik. 
----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar