Semuanya dimulai saat Ani berusia 13
tahun, seorang siswi sebuah SMP Negeri di Jakarta. 2010, ya tahun itu menjadi
sebuah incredible inception dalam
hidupnya. Saat itu, tepatnya bulan Desember, ayah Ani mengalami kecelakaan.
Satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, mengalami
kecelakaan. Ayah Ani memiliki riwayat darah tinggi dan kambuh saat mengendarai
motor, pingsan, lalu kecelakaan tunggal. Ani sedang di sekolah dan diberi kabar
bahwa ayahnya sudah berada di rumah sakit. Dan Ani, ya hanya berharap itu
mimpi.
Ani
pergi ke rumah sakit bersama ibu dan adiknya. Ayah Ani sadar, dapat berbicara,
namun dengan penyangga leher menahannya. Dokter bilang, akan dilakukan rontgen terhadap seluruh tubuh ayah Ani.
Beberapa jam setelah itu, keluarlah hasilnya. Ayah Ani mengalami darah tinggi
yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otaknya. Saat itu, darah sudah
memenuhi 30% isi kepala ayah Ani dan dokter sangat menganjurkan untuk segera
dilakukan operasi kepala untuk mengeluarkan darah tersebut. Peluangnya, jika
tidak dioperasi, ayah Ani pasti mengalami kematian karena kepala yang dipenuhi
cairan tersebut. Namun, jika dioperasi, ada kemungkinan berhasil tetapi
meninggalkan bekas, seperti hilang ingatan, stroke total, bahkan kematian juga.
Alhasil, jalan operasi lah yang dipilih keluarga Ani.
Malamnya dilakukan operasi. Operasi
berjalan selama 12 jam. Ani tidak diizinkan menginap di rumah sakit. Ani hanya
di rumah dengan segala kepanikan itu dan rasa sedih mendalam yang tak
tertahankan. Keesokan harinya, Ani kembali ke rumah sakit. Ayah Ani berada di
ruang ICU selama beberapa hari. Saat itu, yang Ani ingat hanya tubuh ayahnya
yang terbaring, dengan tiga selang yang masuk ke dalam mulutnya, bernapas
dengan mendengar suara mesin-mesin menyeramkan itu. Operasinya berhasil. Tetapi
ayah Ani tidak sadar selama beberapa hari. Ani, serta ibu, adik, dan budenya,
hanya menangis setiap hari, atau bahkan setiap saat. Hanya berdo’a, memohon
untuk kesadaran ayah Ani kembali.
Beberapa
hari, ayah Ani sadar. Iya ayah Ani sadar kembali. Ayah Ani bisa berbicara
seperti biasa. Ayah Ani tidak hilang ingatan. Ayah Ani normal. Mengalami lumpuh
selama 2-3 bulan, membuat mereka banyak melakukan pengobatan, seperti akupuntur,
terapi sinar, hingga pijat tradisional, sampai akhirnya ayah Ani bisa berjalan kembali.
Ayah Ani dapat beraktivitas seperti biasa. Hanya saja, sisa operasi itu masih
ada hingga detik ini, ayah Ani mengalami epilepsi setiap bulan. Ya, epilepsi adalah
resiko terbaik yang ayah Ani terima dari sekian banyak sisa operasi yang bahkan
tak ingin dia sebut lagi. Ayah Ani bisa
kembali bekerja, memperbaiki mobil atau motor yang bermasalah, kemudian dijual
kembali dengan harga yang lebih tinggi. Harapan itu kembali.
Ayah
Ani bisa bekerja kembali, tetapi tetap tidak maksimal seperti dulu. Lebih
lemas, lebih mudah capek, lebih takut epilepsinya kambuh, pemasukkan keluarga
merekapun menurun. Kekhawatiran itu muncul ketika melihat Ani dan adiknya yang
masih kecil. Inilah yang menyebabkan ayah Ani ingin Ani masuk SMK, agar bisa
cepat bekerja. Salah satu sekolah analis kimia di Bogor merupakan SMK yang Ani
pilih sebagai jalan agar Ani dapat langsung bekerja ketika lulus nanti. Tetap
dengan usaha mencari beasiswa untuk membayar keperluan sekolah Ani dan adiknya,
kehidupan Ani penuh dengan perjuangan. Tetapi itu semua tidak mengganggu akademiknya,
Ani selalu peringkat tiga besar di sekolah. Yang Ani tahu, Ani hanya ingin
menjadi yang terbaik dengan segala keterbatasan yang ada.
Hari
itu pun tiba. Ketika dilema yang dia alami, akankah sungguh akan langsung bekerja,
atau melanjutkan studinya? Ani mencari apa yang bisa dia dapat, dan menyedihkan
sekali ketika Ani hanya seorang lulusan SMK. Lalu Ani memutar otak untuk
menutupi beban kedua orang tuanya jika membiayai Ani kuliah. Itulah dia,
beasiswa, Beasiswa Bidikmisi. Ani datang untuk menjelaskan kepada kedua orang
tuanya bahwa Ani ingin kuliah, Ani akan berusaha agar mereka tidak mengeluarkan
uang untuk itu. Perdebatan itu muncul, hingga semacam sidang keluarga besar pun
Ani jalani. Orang tuanya takut Ani berhenti di tengah jalan. Keluarga besar Ani
berharap Ani D3 saja. Keluarga besar Ani juga tidak setuju dengan pilihan
jurusannya, matematika, karena tidak sesuai dengan jurusan SMK nya dulu. Ani
menjelaskan tentang beasiswa itu, Ani menjelaskan alasannya pilih S1, Ani
menjelaskan bahwa Ani lebih mencintai matematika daripada kimia. Ani ingin
kuliah, Ani ingin kuliah sesuai dengan minatnya, bukan karena alasan riwayat
SMK nya dulu, yang bahkan Ani pilih hanya karena agar cepat dapat bekerja.
Dengan segala keinginan dan keyakinan itu, akhirnya cerita berlanjut.
Akhirnnya Ani mencoba jalur SNMPTN dan
diterima di Institut Pertanian Bogor jurusan matematika. Hari-hari itu belum
selesai, Ani masih harus memperjuangkan beasiswa itu. Awalnya, Ani tidak
diterima sebagai mahasiswa bidikmisi karena ada pengurangan kuota. Dengan uang
tabungan yang ada, Ani membayar UKT. Ani tetap meyakinkan orang tuanya bahwa Ani
akan tetap mencari beasiswa yang lain, Ani hanya yakin, hanya yakin. Lucky her, ada bidikmisi tahap dua dan Ani
diterima di sana. Ani sangat bersyukur. Keinginannya itu, keyakinannya itu, dan
kerja kerasnya itu, tanyalah pada mereka maka mereka akan menjelaskan semuanya.
Ya, tanyalah pada mereka!
Tiba lah hari ini, hari dimana Ani menjalaninya.
Perjuangan itu tak akan pernah habis sampai cita-citanya dapat terwujud. Ani
ingin sekali tidak hanya membangun kehidupan keluarganya, tetapi juga ingin untuk
membangun bangsa ini. Ani menganggap, permasalahan bangsa ini, permasalahan
masyarakat hari ini, adalah permasalahannya juga. Ani ingin bermanfaat untuk
keluarganya, untuk orang lain, untuk agamanya, dan untuk bangsanya. Bagaimana Ani
bisa? Ya, keinginannya, keyakinannya, dan kerja kerasnya, tanyalah pada mereka!