Selasa, 09 Februari 2021

It's not because I want to, but I have to...

 Dear my future daughters, my future sons,

Selamat pagi! Kalian sarapan apa pagi ini? Ibu ingin mengenalkan menu sarapan untuk kalian, namanya sandwich. Sandwich itu roti lapis atau roti isi, Nak. Isinya ada sayuran, daging, atau keju, yang atasnya roti, bawahnya juga roti. Isinya diapit oleh dua roti, Nak, kira-kira enak gak ya?

Ibu terlahir sebagai generasi sandwich, Nak. Ya, betul, diapit oleh dua roti. Ibu harus bertanggung jawab atas kehidupan orang tuanya ibu dan juga bertanggung jawab atas kuliah adiknya ibu. Saat ini ibu berusia 23 tahun. Menurut kalian, gimana ya rasanya seorang perempuan berusia 23 tahun yang baru lulus kuliah, harus bertanggung jawab atas itu semua, di sisi lain perempuan itu masih punya masa depan yang sangat panjang untuk dipikirkan juga? Tapi gak perlu khawatir, Nak, sejujurnya saat ini ibu sering sekali memikirkan kalian.

Ibu pernah bertanya pada teman-teman ibu, kira-kira hal apa yang paling menakutkan dari sebuah pernikahan. Banyak dari mereka yang menjawab perselingkuhan, perceraian, atau salah memilih partner hidup yang cocok. Tapi berbeda dengan ibu. Ibu lebih khawatir dan takut tentang bagaimana ibu bisa mendidik dan membesarkan kalian dengan sebaik-baiknya. Seperti tentang bagaimana menumbuhkan rasa takut pada Tuhan, bagaimana memiliki daya tahan ketika kita lagi down, bahkan bagaimana agar kalian bisa sekolah dan kuliah dengan baik tanpa memikirkan uang dan makan.

Nak, ibu saat ini masih berjuang dengan semua tanggung jawab itu. Ibu juga masih bingung, kapan ibu akhirnya bisa membangun masa depan ibu dan akhirnya bisa melihat wajah kalian. Mohon maaf ya, Nak, jika nanti ibu terlalu renta untuk bisa mendampingi dan melihat kesuksesan kalian. Karena satu hal, Nak, ibu ingin memastikan agar kalian nanti bisa sekolah dan kuliah tanpa memikirkan uang, agar kalian juga tidak harus bertanggung jawab atas sekolah dan kuliah adik-adik kalian. Juga, ibu ingin mandiri, Nak, sehingga kalian nanti tidak perlu repot mengurus ibu ketika ibu sudah tua.

Tapi lebih dari itu, tulisan ini ibu buat untuk menceritakan hal lain. Tepat di hari ini, ibu dihadapkan dengan dilema yang luar biasa. Ibu harus meninggalkan pekerjaan ibu yang sekarang, yang memiliki niat mulia untuk bermanfaat bagi masyarakat, yang memiliki masa depan yang bagus, bahkan ibu dapat berkembang dengan luar biasa dari sana. Ibu harus meninggalkan pekerjaan itu karena uang, Nak, karena ada pekerjaan lain yang mendatangkan uang lebih banyak. Sebetulnya di pekerjaan ibu sekarang, mereka menaruh harapan yang banyak pada ibu, Nak. Tetapi harapan itu musnah ketika ibu lebih memilih pekerjaan lain. Bukan, bukan karena ibu ingin, tapi ibu harus melakukan itu. Kalau kalian di posisi ibu sekarang, kira-kira keputusan apa yang akan kalian ambil? Ibu betul-betul ingin tahu itu.

Nak, dari sini ibu banyak sekali belajar. Ketika seorang manusia masih memikirkan uang dan makan di dalam hidupnya, maka orang tersebut akan sulit sekali mengembangkan potensi terbaik dalam dirinya. Maka dari itu, ibu ingin kalian fokus saja pada cita-cita kalian. Jadilah orang yang bermanfaat untuk masyarakat karena banyak sekali, Nak, masyarakat yang masih memikirkan uang dan makan. Ibu juga belajar untuk meletakkan harapan setinggi-tingginya pada Tuhan, bukan pada manusia. Di saat kita merasa benar-benar sendiri, sesungguhnya masih ada Tuhan yang siap mendengarkan keluh kesah kita, Nak.

Itu saja cerita dilema ibu hari ini. Semoga kalian bisa mengerti dan belajar banyak dari sana ya. Sampai bertemu di masa depan ya, Nak, ibu gak sabar 😊


10 Februari 2021,

Ani.