Rabu, 07 Juni 2017

Tanyalah pada Mereka!

Semuanya dimulai saat Ani berusia 13 tahun, seorang siswi sebuah SMP Negeri di Jakarta. 2010, ya tahun itu menjadi sebuah incredible inception dalam hidupnya. Saat itu, tepatnya bulan Desember, ayah Ani mengalami kecelakaan. Satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, mengalami kecelakaan. Ayah Ani memiliki riwayat darah tinggi dan kambuh saat mengendarai motor, pingsan, lalu kecelakaan tunggal. Ani sedang di sekolah dan diberi kabar bahwa ayahnya sudah berada di rumah sakit. Dan Ani, ya hanya berharap itu mimpi.
            Ani pergi ke rumah sakit bersama ibu dan adiknya. Ayah Ani sadar, dapat berbicara, namun dengan penyangga leher menahannya. Dokter bilang, akan dilakukan rontgen terhadap seluruh tubuh ayah Ani. Beberapa jam setelah itu, keluarlah hasilnya. Ayah Ani mengalami darah tinggi yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otaknya. Saat itu, darah sudah memenuhi 30% isi kepala ayah Ani dan dokter sangat menganjurkan untuk segera dilakukan operasi kepala untuk mengeluarkan darah tersebut. Peluangnya, jika tidak dioperasi, ayah Ani pasti mengalami kematian karena kepala yang dipenuhi cairan tersebut. Namun, jika dioperasi, ada kemungkinan berhasil tetapi meninggalkan bekas, seperti hilang ingatan, stroke total, bahkan kematian juga. Alhasil, jalan operasi lah yang dipilih keluarga Ani.
            Malamnya dilakukan operasi. Operasi berjalan selama 12 jam. Ani tidak diizinkan menginap di rumah sakit. Ani hanya di rumah dengan segala kepanikan itu dan rasa sedih mendalam yang tak tertahankan. Keesokan harinya, Ani kembali ke rumah sakit. Ayah Ani berada di ruang ICU selama beberapa hari. Saat itu, yang Ani ingat hanya tubuh ayahnya yang terbaring, dengan tiga selang yang masuk ke dalam mulutnya, bernapas dengan mendengar suara mesin-mesin menyeramkan itu. Operasinya berhasil. Tetapi ayah Ani tidak sadar selama beberapa hari. Ani, serta ibu, adik, dan budenya, hanya menangis setiap hari, atau bahkan setiap saat. Hanya berdo’a, memohon untuk kesadaran ayah Ani kembali.
            Beberapa hari, ayah Ani sadar. Iya ayah Ani sadar kembali. Ayah Ani bisa berbicara seperti biasa. Ayah Ani tidak hilang ingatan. Ayah Ani normal. Mengalami lumpuh selama 2-3 bulan, membuat mereka banyak melakukan pengobatan, seperti akupuntur, terapi sinar, hingga pijat tradisional, sampai akhirnya ayah Ani bisa berjalan kembali. Ayah Ani dapat beraktivitas seperti biasa. Hanya saja, sisa operasi itu masih ada hingga detik ini, ayah Ani mengalami epilepsi setiap bulan. Ya, epilepsi adalah resiko terbaik yang ayah Ani terima dari sekian banyak sisa operasi yang bahkan tak ingin dia  sebut lagi. Ayah Ani bisa kembali bekerja, memperbaiki mobil atau motor yang bermasalah, kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Harapan itu kembali.
            Ayah Ani bisa bekerja kembali, tetapi tetap tidak maksimal seperti dulu. Lebih lemas, lebih mudah capek, lebih takut epilepsinya kambuh, pemasukkan keluarga merekapun menurun. Kekhawatiran itu muncul ketika melihat Ani dan adiknya yang masih kecil. Inilah yang menyebabkan ayah Ani ingin Ani masuk SMK, agar bisa cepat bekerja. Salah satu sekolah analis kimia di Bogor merupakan SMK yang Ani pilih sebagai jalan agar Ani dapat langsung bekerja ketika lulus nanti. Tetap dengan usaha mencari beasiswa untuk membayar keperluan sekolah Ani dan adiknya, kehidupan Ani penuh dengan perjuangan. Tetapi itu semua tidak mengganggu akademiknya, Ani selalu peringkat tiga besar di sekolah. Yang Ani tahu, Ani hanya ingin menjadi yang terbaik dengan segala keterbatasan yang ada.
            Hari itu pun tiba. Ketika dilema yang dia alami, akankah sungguh akan langsung bekerja, atau melanjutkan studinya? Ani mencari apa yang bisa dia dapat, dan menyedihkan sekali ketika Ani hanya seorang lulusan SMK. Lalu Ani memutar otak untuk menutupi beban kedua orang tuanya jika membiayai Ani kuliah. Itulah dia, beasiswa, Beasiswa Bidikmisi. Ani datang untuk menjelaskan kepada kedua orang tuanya bahwa Ani ingin kuliah, Ani akan berusaha agar mereka tidak mengeluarkan uang untuk itu. Perdebatan itu muncul, hingga semacam sidang keluarga besar pun Ani jalani. Orang tuanya takut Ani berhenti di tengah jalan. Keluarga besar Ani berharap Ani D3 saja. Keluarga besar Ani juga tidak setuju dengan pilihan jurusannya, matematika, karena tidak sesuai dengan jurusan SMK nya dulu. Ani menjelaskan tentang beasiswa itu, Ani menjelaskan alasannya pilih S1, Ani menjelaskan bahwa Ani lebih mencintai matematika daripada kimia. Ani ingin kuliah, Ani ingin kuliah sesuai dengan minatnya, bukan karena alasan riwayat SMK nya dulu, yang bahkan Ani pilih hanya karena agar cepat dapat bekerja. Dengan segala keinginan dan keyakinan itu, akhirnya cerita berlanjut.
 Akhirnnya Ani mencoba jalur SNMPTN dan diterima di Institut Pertanian Bogor jurusan matematika. Hari-hari itu belum selesai, Ani masih harus memperjuangkan beasiswa itu. Awalnya, Ani tidak diterima sebagai mahasiswa bidikmisi karena ada pengurangan kuota. Dengan uang tabungan yang ada, Ani membayar UKT. Ani tetap meyakinkan orang tuanya bahwa Ani akan tetap mencari beasiswa yang lain, Ani hanya yakin, hanya yakin. Lucky her, ada bidikmisi tahap dua dan Ani diterima di sana. Ani sangat bersyukur. Keinginannya itu, keyakinannya itu, dan kerja kerasnya itu, tanyalah pada mereka maka mereka akan menjelaskan semuanya. Ya, tanyalah pada mereka!

  Tiba lah hari ini, hari dimana Ani menjalaninya. Perjuangan itu tak akan pernah habis sampai cita-citanya dapat terwujud. Ani ingin sekali tidak hanya membangun kehidupan keluarganya, tetapi juga ingin untuk membangun bangsa ini. Ani menganggap, permasalahan bangsa ini, permasalahan masyarakat hari ini, adalah permasalahannya juga. Ani ingin bermanfaat untuk keluarganya, untuk orang lain, untuk agamanya, dan untuk bangsanya. Bagaimana Ani bisa? Ya, keinginannya, keyakinannya, dan kerja kerasnya, tanyalah pada mereka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar